Posted by: arditachayo on: Desember 26, 2009
Yah… Di dunia ini pasti ada, orang yang dikaruniai kekurangan dan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya…. bagi sebagian orang, mereka akan menganggap kekurangan itu sebagai tembok penghalang untuk meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Malu, minder, dan membuatnya menarik diri dari pergaulan. Jika ia tak berubah maka stigma itu akan terus membelenggu pikirannya, sehingga perlahan –lahan ia akan dilupakan orang. Bagi orang lain, ada atau tidaknya dia dalam satu perkumpulan tak ada bedanya. Hidupnya akan ia lalui sendirian, hatinya pun akan mati,,, dan kebahagiannnya pun akan terasa hampa…. (Bisa dibilang masa-masa seperti ini adalah masanya si “pengecut”).
Tapi tidak bagi seseorang yang kekurangan namun ia mampu memahami kekurangan itu sehingga mampu menghancurkan tembok penghalang dan melesat maju kedepan untuk meraih kesuksesan. Mereka yang senantiasa bersyukur dan mengubah pola pikir mereka untuk merubah kekurangan menjadi suatu kelebihan. Mereka yang berpikir bahwa mereka bukan orang yang tidak berguna. Karena mereka mampu berbuat lebih dari orang yang kondisinya lebih baik dari dia. Mereka yang senantiasa berjuang meski dalam keterbatasan. Mereka yang berani dan tegar dalam menghadapi segala cercaan dan membangun kepercayaan dirinya. (aku namakan orang ini “karang yang kokoh”).
OK,,Susah memang mengimplementasikan hal itu semua, karena adakalanya kita jatuh, terhina, ditinggalkan, hingga asa tak mampu lagi mengangkat kita untuk menghadapi ini semua. Terkadang kita mampu bertahan,, tapi sering juga kita berada dalam titik terendah dalam fase kehidupan….Kalau tak hati-hati kita akan terjerumus dalam lembah ketakutan dan membuat kita menjadi seorang yang pengecut. Penulis disini, sebenarnya adalah paradigma dari tulisan di atas. Semuanya normal… tapi ada kekurangan yang sangat menekan dalam hidupnya. Karena sampai sekarang ia belum menemukan penyembuh dari penyakitnya. Tak berbahaya bagi tubuhnya.. tapi mampu menghancurkan pola pikir dan kalbunya…. mampu membuatnya kesepian… membelenggu segala cita-cita yang telah ia tuliskan dalam kamus kehidupannya… dan yang lebih parah lagi hal yang mampu membelenggunya untuk mengenal Tuhan lebih dekat… astaghfirullahaladzim….
Tak berharap juga bahwa si Penulis akan terus-menerus berada dalam masa-masa “pengecut” dalam menjalani setiap episode kehidupannya…. Sehingga ending dalam tulisan ini bukan hanya sebuah keluhan belaka yang kosong makna, tapi sebaliknya… akan menjadi alas tonggak dalam sejarah kehidupannya sehingga banyak Karya yang dihasilkan oleh si penulis dan kebaikan2 yang bisa penulis amalkan untuk mengisi detik dari setiap episode hidupnya.
Wallahualam bi showab.
20/12/2009 10:00:40 AM